Senin, 24 Juni 2013

AKU IRFAN, SEORANG PENJUAL KERIPIK KELILING

AKU IRFAN, SEORANG PENJUAL KERIPIK KELILING

 Irfan, umur 12 tahun adalah seorang pelajar kelas VIII SMPN 11 Balikpapan. Irfan ditinggalkan orang tuanya sejak umur 1 tahun dan dititipkan di panti asuhan. Sekarang Irfan bertempat tinggal di panti asuhan kilo 5 Balikpapan. Irfan sebelumnya berasal dari panti asuhan di Jawa, tetapi karena terlalu banyaknya anak panti yang semakin bertambah dan panti asuhan tidak dapat menampung banyaknya anak panti, maka sebagian dari anak panti dialihkan ke panti asuhan di Balikpapan.
Irfan sehari-harinya selain seorang pelajar, dia juga berjualan keripik dan peyek. Irfan sudah berjualan keripik dan peyek dari kelas III SD. Irfan memutuskan untuk berjualan untuk membantu biaya sekolahnya sekarang dari pada mengemis di jalan, dia berpikir bahwa lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah dan dia lebih suka berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Irfan juga tidak ingin menyulitkan atau memberatkan ibu panti. Akhirnya Irfan dan teman-temannya memutuskan untuk membuat peyek dan keripik untuk dijual. Irfan meminta izin kepada ibu panti untuk berjualan peyek, yang hasil penjualannya untuk membiayai sekolahnya. Walaupun usaha menjual peyek dan keripik adalah usaha Irfan besama teman-temannya, ibu panti tetap membantu mereka dalam pembuatan keripik dan peyek tersebut. Peyek dan keripik tidak dijual di area panti, tetapi Irfan yang langsung berjualan ke jalan, seperti Ramayana dan Plaza Balikpapan.
Pukul 07.00 WITA Irfan memulai aktifitasnya sebagai seorang pelajar. Di sekolah Irfan adalah anak yang berprestasi, hal itu dibuktikan dengan penghargaan yang dia raih sebagai juara I dalam lomba reporter tingkat SMP. Irfan juga pernah menjuarai lomba taekwondo. Walaupun begitu, Irfan tidak sombong terhadap teman-temannya atas apa yang sudah dia raih.
Biasanya Irfan pulang sekolah pukul 14.00 WITA, setelah makan siang Irfan menyempatkan waktu untuk belajar karena Irfan biasa berjualan sampai malam hari. Irfan tidak mau menyia-nyiakan waktu yang ada untuk bersantai-santai ataupun bermain -main sebelum dia berjualan. Ketika waktu menunjukan pukul 15.00  WITA Irfan langsung bergegas untuk mengambil keripik dan peyek yang sudah dikemas untuk dijual. Dari panti kilo 5, Irfan berjalan kaki dan dia tidak pernah mau naik angkutan umum, karena Irfan menganggap lebih banyak kesempatan konsumen akan membeli jualannya dari pada harus naik angkutan umum untuk sampai tujuannya. Setiap harinya Irfan membawa keripik jualannya yang diletakkan di dalam kardus yang besar dan dilapisi plastik yang memudahkan Irfan untuk membawanya. Irfan berjalan kaki melewati setiap toko atau rumah untuk menawarkan keripik dan peyeknya, meskipun di bawah panas matahari dan rasa lelah, Irfan tidak pernah mengeluh dengan apa yang dikerjakannya. Walaupun terkadang ada penolakan dari orang-orang yang tidak mau membeli keripik dan peyek yang membuat Irfan kecewa.
Setiap harinya Irfan membawa sekitar 30 sampai 50 bungkus keripik dan peyek yang masing-masing dijual dengan harga Rp. 5000,00 / bungkus. Hasil dari jualannya sebagian diberikan ke ibu panti, dan sebagian lagi dibagi bersama teman-temannya. Irfan hanya mengambil Rp. 1000,00 / bungkusnya, dan teman-teman Irfan yang membantu proses pembuatan keripik dan peyeknya hanya mengambil Rp. 500,00 / bungkusnya.
Ketika sedang berjualan terkadang Irfan sering mendapatkan gangguan dari preman-preman yang tidak bertanggung jawab mengambil uang dari hasil jualannya, tetapi Irfan tidak menyerah untuk tetap berjualan dengan rasa takut dan cemas, Irfan tetap berjalan kaki melewati kesunyian malam dan bahaya akan adanya preman. Walaupun Irfan berusaha untuk menjual keripik dan peyeknya, dia tidak pernah lupa untuk menjalankan sholat lima waktu. Ketika adzan berkumandang Irfan bergegas mencari masjid untuk menunaikan sholat dan meninggalkan kegiatan berjualannya sejenak serta melepas lelah. Irfan selalu berjualan sampai malam hari, dia berjualan sampai pukul 21.30 WITA, ketika sudah waktu pulang, Irfan juga tidak pernah naik angkutan umum, dia tetap berjalan kaki ke panti asuhan, Irfan berharap masih ada yang mau membeli sisa peyek dan keripiknya diperjalanan dia pulang.
Setelah tiba di panti dan memberikan hasil penjualannya ke ibu panti, Irfan beristirahat sejenak kemudian mengerjakan PR dan kembali belajar. Terkadang  teman-teman Irfan menawarkan untuk membantu Irfan mengerjakan PR, tetapi Irfan menolak karena Irfan tidak ingin merepotkan teman-temannya dan lebih memilih untuk mengerjakannya sendiri walaupun harus bergadang sampai tengah malam.

Irfan adalah sosok anak yang berusaha hidup mandiri, 11 tahun Irfan tidak pernah bertemu dengan orang tuanya. Rasa benci dan sedih melekat dihati Irfan yang mempertanyakan mengapa orang tua Irfan meninggalkan Irfan di panti asuhan dan tidak pernah menjenguk Irfan sesekali,  tetapi Irfan tidak ingin menjadikan itu sebuah hambatan untuk tetap berusaha hidup mandiri. Walaupun masih kecil, Irfan bercita-cita untuk membuka restoran dan membuka warnet dari sebagian dana yang dia dapat dari hasil berjualan. Jika sudah mempunyai banyak uang, Irfan mempunyai niat untuk menyumbangkan uangnya ke panti-panti di Balikpapan.