AKU IRFAN, SEORANG PENJUAL KERIPIK KELILING
Irfan, umur 12
tahun adalah seorang pelajar kelas VIII SMPN 11 Balikpapan. Irfan ditinggalkan
orang tuanya sejak umur 1 tahun dan dititipkan di panti asuhan. Sekarang Irfan
bertempat tinggal di panti asuhan kilo 5 Balikpapan. Irfan sebelumnya berasal
dari panti asuhan di Jawa, tetapi karena terlalu banyaknya anak panti yang
semakin bertambah dan panti asuhan tidak dapat menampung banyaknya anak panti, maka
sebagian dari anak panti dialihkan ke panti asuhan di Balikpapan.
Irfan sehari-harinya selain seorang pelajar, dia juga
berjualan keripik dan peyek. Irfan sudah berjualan keripik dan peyek dari kelas
III SD. Irfan memutuskan untuk berjualan untuk membantu biaya sekolahnya sekarang
dari pada mengemis di jalan, dia berpikir bahwa lebih baik tangan di atas dari
pada tangan di bawah dan dia lebih suka berusaha untuk mendapatkan apa yang
diinginkannya. Irfan juga tidak ingin menyulitkan atau memberatkan ibu panti.
Akhirnya Irfan dan teman-temannya memutuskan untuk membuat peyek dan keripik
untuk dijual. Irfan meminta izin kepada ibu panti untuk berjualan peyek, yang
hasil penjualannya untuk membiayai sekolahnya. Walaupun usaha menjual peyek dan
keripik adalah usaha Irfan besama teman-temannya, ibu panti tetap membantu
mereka dalam pembuatan keripik dan peyek tersebut. Peyek dan keripik tidak
dijual di area panti, tetapi Irfan yang langsung berjualan ke jalan, seperti
Ramayana dan Plaza Balikpapan.
Pukul 07.00 WITA Irfan memulai aktifitasnya sebagai
seorang pelajar. Di sekolah Irfan adalah anak yang berprestasi, hal itu
dibuktikan dengan penghargaan yang dia raih sebagai juara I dalam lomba
reporter tingkat SMP. Irfan juga pernah menjuarai lomba taekwondo. Walaupun
begitu, Irfan tidak sombong terhadap teman-temannya atas apa yang sudah dia
raih.
Biasanya Irfan pulang sekolah pukul 14.00 WITA, setelah
makan siang Irfan menyempatkan waktu untuk belajar karena Irfan biasa berjualan
sampai malam hari. Irfan tidak mau menyia-nyiakan waktu yang ada untuk
bersantai-santai ataupun bermain -main sebelum dia berjualan. Ketika waktu
menunjukan pukul 15.00 WITA Irfan langsung
bergegas untuk mengambil keripik dan peyek yang sudah dikemas untuk dijual.
Dari panti kilo 5, Irfan berjalan kaki dan dia tidak pernah mau naik angkutan
umum, karena Irfan menganggap lebih banyak kesempatan konsumen akan membeli
jualannya dari pada harus naik angkutan umum untuk sampai tujuannya. Setiap
harinya Irfan membawa keripik jualannya yang diletakkan di dalam kardus yang
besar dan dilapisi plastik yang memudahkan Irfan untuk membawanya. Irfan
berjalan kaki melewati setiap toko atau rumah untuk menawarkan keripik dan
peyeknya, meskipun di bawah panas matahari dan rasa lelah, Irfan tidak pernah
mengeluh dengan apa yang dikerjakannya. Walaupun terkadang ada penolakan dari
orang-orang yang tidak mau membeli keripik dan peyek yang membuat Irfan kecewa.
Setiap harinya Irfan membawa sekitar 30 sampai 50 bungkus
keripik dan peyek yang masing-masing dijual dengan harga Rp.
5000,00 / bungkus. Hasil dari jualannya sebagian
diberikan ke ibu panti, dan sebagian lagi dibagi bersama teman-temannya. Irfan
hanya mengambil Rp. 1000,00 / bungkusnya, dan teman-teman Irfan yang membantu
proses pembuatan keripik dan peyeknya hanya mengambil Rp.
500,00 / bungkusnya.
Ketika sedang berjualan terkadang Irfan sering
mendapatkan gangguan dari preman-preman yang tidak bertanggung jawab mengambil
uang dari hasil jualannya, tetapi Irfan tidak menyerah untuk tetap berjualan
dengan rasa takut dan cemas, Irfan tetap berjalan kaki melewati kesunyian malam
dan bahaya akan adanya preman. Walaupun Irfan berusaha untuk menjual keripik
dan peyeknya, dia tidak pernah lupa untuk menjalankan sholat lima waktu. Ketika
adzan berkumandang Irfan bergegas mencari masjid untuk menunaikan sholat dan
meninggalkan kegiatan berjualannya sejenak serta melepas lelah. Irfan selalu
berjualan sampai malam hari, dia berjualan sampai pukul 21.30 WITA, ketika
sudah waktu pulang, Irfan juga tidak pernah naik angkutan umum, dia tetap
berjalan kaki ke panti asuhan, Irfan berharap masih ada yang mau membeli sisa
peyek dan keripiknya diperjalanan dia pulang.
Setelah tiba di panti dan memberikan hasil penjualannya
ke ibu panti, Irfan beristirahat sejenak kemudian mengerjakan PR dan kembali
belajar. Terkadang teman-teman Irfan
menawarkan untuk membantu Irfan mengerjakan PR, tetapi Irfan menolak karena
Irfan tidak ingin merepotkan teman-temannya dan lebih memilih untuk
mengerjakannya sendiri walaupun harus bergadang sampai tengah malam.
Irfan adalah sosok anak yang berusaha hidup mandiri, 11
tahun Irfan tidak pernah bertemu dengan orang tuanya. Rasa benci dan sedih
melekat dihati Irfan yang mempertanyakan mengapa orang tua Irfan meninggalkan
Irfan di panti asuhan dan tidak pernah menjenguk Irfan sesekali, tetapi Irfan tidak ingin menjadikan itu
sebuah hambatan untuk tetap berusaha hidup mandiri. Walaupun masih kecil, Irfan
bercita-cita untuk membuka restoran dan membuka warnet dari sebagian dana yang
dia dapat dari hasil berjualan. Jika sudah mempunyai banyak uang,
Irfan mempunyai niat untuk menyumbangkan uangnya ke
panti-panti di Balikpapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar